1. Ah, ini perasan rindu
    Seperti sudah berpuluh windu
    Seperti sudah tak mau tahu, tapi sebenarnya mau
    Kemanakah wajah halus itu?
    Rasanya kamu seperti mati di sana
    Meninggalkan kenangan di tempat kumau berwisata
    Ya, Jogjakarta
    Tiap kuingat kota itu, kenanganmu pun berkelibat
    Padahal siapalah kamu?
    Pemuda berkulit sawo matang, pangeran penghuni istana? Bukan!
    Kamu hanyalah pemuda tionghoa biasa, bangsa yang menumpang di sini
    Yang berlarian dengan senyuman di wajahmu
    Mengejar mimpi bersama beberapa bekas temanmu

    Kini

    Kemana dirimu?
    Dengarkah engkau ketika ku tekankan nada di kata bekas, pada temanmu?
    Karena itulah kenyataannya
    Mereka melangkah
    Mengejar mimpi
    Tanpamu
    Kemana dirimu?

    Aku rindu…
    Dan setiap aku mengingat senyummu
    Aku pun ingat akan Jogjakarta
    Dan tawamu yang perlahan tertutup deru-deru kendaraan di Jakarta
    Benar-benar menyiksaku

  2. Reblogged from: kawaiiislikemars
  3. Reblogged from: movie-addicted
  4. Reblogged from: xxventure
  5. Reblogged from: warriorafterall
  6. 6ium:

    ¥3,780

    Reblogged from: anzujaamu
  7. #cantikcantikserigala
Cc: @ferlinawidjaja

    #cantikcantikserigala
    Cc: @ferlinawidjaja

  8. Well I miss my long hair.

    Well I miss my long hair.

  9. Andai ada lelaki seperti Kelly. Tapi sayang, dia lesbian. Dan aku sebenarnya tidak keberatan dengan hubungan kami. Dan aku tidak perduli dengan pikiran orang lain. Untungnya orang tuaku dua-duanya juga sudah mati. Sanak saudara? Sepertinya sudah membuang namaku jauh-jauh dari keluarga besar Suharja.
    Yang kupikirkan adalah mengapa Kelly harus seorang perempuan. Akan lebih baik adanya jika dia seorang lelaki, dan aku tidak segan-segan akan membuatnya penisnya ereksi. Aku lebih mengerti seluk beluk tubuh lelaki dari pada perempuan, karena sebenarnya aku bukan pecinta sesama jenis (dan ini adalah pertama kalinya aku berpasangan dengan perempuan).
    Tapi, demi Tuhan, Kelly terlalu baik untukku. Jika dia tidak ada, mungkin aku sudah habis di tangan para preman di pinggir jembatan itu. Kelly terkenal sangar dan memiliki wilayah kekuasaan di situ. Dan karena Kelly, aku dengan puas mentertawakan preman-preman yang habis disodomi oleh kroco-kroconya Kelly. Terakhir kali aku lihat mereka di Bilangkawi, wajah mereka letih dan lesu seperti tidak ingin hidup lagi. Setelah itu beberapa hari kemudian kudengar dua dari mereka kembali ke kampung halaman masing-masing, sisanya bunuh diri dengan menenggak anggur merah dan ekstasi. Overdosis. Sepertinya harga diri mereka sebagai preman Bilangkawi benar-benar tercoreng.
    ***

    Kelly tengah menyisir poninya kebelakang dengan tangannya, gerakkan yang sangat kusukai. Sebagai perempuan pun, Kelly terlampau lebih mirip lelaki. Garis wajahnya maskulin dan rambutnha dipotong cepak di kedua sisinya, namun poninya yang halus dibiarkan memanjang.
    Aku mengecup lembut bibir Kelly dan tertawa kecil. Kelly nampaknya terlalu lelah untuk membalas kecupanku. Karenanya beberapa saat kemudian kudengar dengkuran halus dari mulutnya yang setengah terbuka.
    ***

    "Yang, menurutmu apa yang bakal terjadi kalau aku nggak dateng nyelametin kamu?"
    Widasa menatap Kelly dengan pandangan jengah.
    “Paling aku mati kehabisan darah, siapa tau sebenarnya mereka itu vampir, hihihi…”
    “Nggak lucu, deh. Memangnya kamu kira ini jaman drakula masih ngisep darah.”
    “Emang jaman sekarang drakula ngisepnya apa?”
    “Kenti!”
    Keduanya tertawa sambil memukul-mukul ranjang.
    “Gila, itu kelamin robek yang ada digigit drakula!”
    “Udah ah, hus, diajak ngomong jorok dikit langsung deh keterusan! Serius dong…”
    “Emangnya kenapa kamu mau tau banget, sih?”
    Kelly memilin-milin rambut Widasa yang hitam dan halus. “Aku penasaran aja.”
    “Ya mungkin aja aku dimatiin sama mereka gara-gara aku gigit kontol mereka sampe putus!”
    “Duh, yang… bisa nggak sih nggak ngomong jorok, sekaliii aja…”
    “Nggak bisa, udah bawaan dari orok. Udah ah, ngapain diinget-inget sih? Bawaannya pengen matiin mereka tau nggak. Lagian, kenapa kamu nggak suruh anak buahmu buat bunuh mereka aja?”
    “Karena kalo langsung bunuh, nggak asyik. Mereka nggak bakal menderita. Aku nggak bisa berenti ketawa pas denger si Joko yang badannya segede donkey kong nangis abis dikerjain anak buahku. Kabarnya dia langsung tobat dan minta maaf ke bapak emaknya di kampung. Sialan, padahal utangnya belum lunas sama aku. Liat aja, aku bakal cecer dia! Dia salah perhitungan udah macem-macem sama cewek aku.”
    Widasa tersenyum mendengar jawaban Kelly. Inilah salah satu alasan mengapa dia mencintai Kelly lebih dari pada laki-laki manapun. Otak psikopatnya sama-sama keji!
    ***

    "Jadi, kamu nggak kerja hari ini?"
    “Iya. Aku nggak enak badan.”
    “Badan kamu dingin banget… masa sih gara-gara minum kemarin?”
    “Udah dibilang aku lagi pengen minum bir aja, kamu malah nyodorin aku apa tuh, Chivas? Aku nggak suka. Enakan anggur merah…”
    “Yaudah, maaf, kukira kamu bakal suka, toh buktinya setengah botol kamu abisin sendiri…”
    “Kamu mesti tau penyakitku yang baru. Kalo nyobain minuman mahal, aku nggak bakal bisa berenti. Makanya mending aku bilang nggak suka daripada ketagihan. Aku bisa OD lama-lama! Hoek, duh, aku mau muntah, Kel…”
    “Saking sakitnya ampe nggak panggil ‘Yang’. Kuampunin, deh, ayu sini ku bopong ke kamar mandi. Yah… jangan muntah di sini, Yang! Yah, bau deh…”
    ***

    Kalau saja aku bisa mengubah diriku menjadi pribadi yang lebih mengerti Kelly, apapun akan kulakukan. Bahkan aku rela jika harus merobek vaginaku dengan celurit sekalipun. Aku terlanjur mencintai Kelly.
    Tapi ternyata aku cuma pecemburu yang tak bisa menahan emosi hanya gara-gara melihat Kelly digandeng oleh lelaki. Demi Tuhan, aku juga rela untuk memotong tangan kananku yang sudah memecahkan kepala bocah itu dengan botol bir.
    Sekarang Kelly sedang berada di rumah sakit, menunggui bocah itu yang belum siuman dari kemarin. Dan aku hanya bisa terpekur di kursi kantor polisi. Menutup mulut rapat walau polisi sudah menggebrak meja tak sabar. Aku terlalu cemburu untuk berbicara.
    ***

    "Kenapa semuanya terjadi begitu cepat…"
    Kelly menatapku dengan penuh kasih sayang, dan aku tak mampu menatap kedua matanya dengan milikku yang sudah memerah karena kebanyakan menangis.
    “Kenapa, kenapa mesti dengan dia?!”
    “Karena aku mencintaimu, Wid.”
    “Lalu apa hubungannya? Kenapa aku harus menikah dengan Lio? Aku maunya sama kamu, Kel…”
    “Wid, memangnya kamu nggak pingin kepunya bayi?”
    “Aku…”
    “Bukannya kamu selalu ngomong ke aku, mau punya anak kembar, cewek sama cowok. Nanti mau digendong di depan kaya kangguru dan dibawa jalan-jalan.”
    “Aku gabutuh bayi, aku butuh kamu.”
    “Aku nggak bakal bisa kasih bayi buat kamu, Wid…”
    Widasa terisak untuk kesekian kalinya malam ini. Bahkan dia yakin walau dia mengiris nadi di depan Kelly sekalipun itu tak akan mengubah keputusan Kelly untuk mengutus Widasa menikah dengan Lio. Bocah yang dia pukul dengan botol bir di klub setengah tahun yang lalu. Bocah yang ternyata adalah sepupu Kelly dan sudah memendam rasa untuk Widasa. Tapi siapa perduli? Kata siapa Widasa ingin menjalin hubungan dengan Lio? Bahkan Widasa tak ingin menjalin hubungan dengan lelaki manapun. Kelly bagaikan narkoba baginya, dan Widasa sudah menjadi pecandu tetap. Untuk selamanya. Overdosis karena Kelly pun, Widasa rela.
    Tapi ketika Kelly mengatakan, dia tak bisa bersama Widasa lagi… dia harus pergi dan tak menunggu Widasa untuk mengepak barang-barangnya, yang berarti Kelly tidak mengajak Widasa bersamanya… Widasa tidak bisa apa-apa kecuali marah dan menangis.
    “Terserah kamu mau ninggalin aku. Tapi aku nggak bakal menikah sama Lio.”
    “Wid…” Kelly merangkum wajah Widasa yang menbengkak karena kebanyakan menangis. “Kamu manggil Lio ‘Kelly’ juga orang nggak bakal ngeh. Aku dan dia udah bagai dildo dibelah dua… hehe… ketawa dong.”
    “Nggak lucu.”
    “Oke, maaf… tapi, aku yakin Lio bakal bahagiain kamu. Dia bakal nunggu kamu sampe kapanpun.”
    “Dan kamu? Kamu nggak mau nunggu aku?”
    “Aku udah ada jalan lain, Wid.”
    “Apa kamu berpikiran untuk berhenti jadi lesbian?” Tanya Widasa sinis. Kelly memutar-mutar rokok di jarinya dan menghela napas dengan berat.
    “Mungkin… mungkin ya, mungkin nggak. Nggak bakal ada yang tahu apa yang bakal terjadi nanti. Keputusanku untuk berhenti jadi lesbian sama seperti keputusanku untuk berhenti hidup. Dan pertanyaanmu menanyakan aku tentang hal itu sama persis seperti bertanya kapan aku akan mati.”
    “Jadi kamu bakal terus jadi lesbian, kan? Kamu bakal terus sayang sama aku, kan???”
    “Wid, aku bakal terus sayang sama kamu, tapi seperti yang kubilang tadi…”
    “Pokoknya aku bakal terus nunggu kamu, dan aku nggak bakal menikah sama Lio.”
    Kelly menatap Widasa dengan sedih. Dia ingin memberitahu alasan mengapa ia melakukan ini semua, tapi waktunya belum pas.
    “Selamat tinggal, Wid.”
    Dan untuk pertama kalinya Widasa menyadari Kelly tidak memanggilnya ‘Yang’. Kelly pasti terlalu sakit.

    Bersambung.

  10. I just wanna dance with you forever. Is it too much?

Next

Emanonllion

Paper theme built by Thomas